Kebumen,
26/1/2026 — MTs Negeri
5 Kebumen melaksanakan pelatihan bersama dalam kegiatan Workshop Implementasi Kurikulum
Berbasis Cinta (KBC) dan Sosialisasi KMA Nomor 1503 tahun 2025 bagi MTs se-KKM MTs Negeri 5 Kebumen.
Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari, yakni tanggal 26–27 Januari 2026,
bertempat di aula MTs Negeri 5 Kebumen, dengan tujuan memperkuat pemahaman dan
kesiapan madrasah dalam mengimplementasikan kebijakan kurikulum terbaru secara
lebih humanis dan berorientasi pada nilai-nilai cinta dalam pendidikan.
Workshop ini menghadirkan narasumber kompeten, yaitu Hj. Sriwi Rahayu, M.Pd., Dra. Hj. Wuryani, M.Pd., serta Hj. Indarwati, S.Pd., M.Pd. Peserta kegiatan terdiri dari guru-guru dari MTs Negeri 5 Kebumen, MTs Attauhid Jogomertan, MTs Mafatikhul Huda Jogosimo, MTs Roudlotul Huda Kebadongan, MTs Diponegoro Tambakprogaten, MTs YAPIKA Petanahan, MTs Salafiyah Syafi’iyah Grogolpenatus, MTs Al Islah Dorowati, dan MTs Sudirman Kuwayuhan.
Dalam sambutannya, Kepala MTs Negeri 5 Kebumen menegaskan komitmen para pendidik untuk terus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Beliau menyampaikan bahwa pengelola pendidikan harus memiliki keterbukaan diri dan prinsip yang kuat dalam menerima hal-hal baru demi kepentingan murid. “Sebagai pendidik, kita tidak boleh berantipati terhadap sesuatu yang baru. Kita harus berani berproses agar anak-anak kita juga memiliki keberanian menghadapi tantangan dan perubahan,” ungkap beliau.
Sementara itu, Pengawas Madrasah Hj. Sriwi Rahayu, M.Pd. dalam arahannya beliau menyampaikan bahwa sembilan MTs telah menyelesaikan tahapan sosialisasi, dan Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan menjadi jiwa dalam seluruh kegiatan madrasah, baik intrakurikuler maupun ekstrakurikuler. Menurut beliau, penerapan KBC harus dimulai dari diri sendiri, dari pengawas, kepala madrasah, guru, hingga akhirnya tertanam pada diri murid. “KBC bukan sekadar formalitas, tetapi benar-benar menumbuhkan jiwa yang penuh cinta dalam pembelajaran dan budaya madrasah,” tegas beliau.
Lebih lanjut disampaikan bahwa dalam proses pembelajaran, murid diharapkan menuntut ilmu bukan karena rasa takut terhadap ancaman atau sanksi, melainkan karena cinta terhadap ilmu itu sendiri. Pendekatan pembelajaran diharapkan bergeser dari “metode budak” dan “metode pedagang”, yakni belajar karena kesadaran dan ketertarikan, bukan semata-mata mengejar nilai. Menumbuhkan cinta terhadap ilmu, menurutnya, memang membutuhkan proses yang tidak mudah, namun menjadi kunci utama dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berkelanjutan.